Mode Tampilan

Jejak Abadi dan Ekspansi Pusat Dakwah Muhammadiyah di Sulawesi Barat

P
Pimpinan Redaksi MaroonPost Wednesday, 19 August 2026 • 23:44 WITA
6 menit baca 2,891
Jejak Abadi dan Ekspansi Pusat Dakwah Muhammadiyah di Sulawesi Barat
Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Barat dan kampus terpadu di Kota Mamuju.
Merekam sejarah masuknya persyarikatan Muhammadiyah di Tanah Mandar, pendirian Amal Usaha (AUM) pendidikan dan kesehatan, serta peran transformatif dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat.

Perjalanan sejarah masuk dan berkembangnya persyarikatan Muhammadiyah di kawasan barat Pulau Sulawesi merupakan mozaik perjuangan dakwah kultural yang sangat mengagumkan. Sejak dasawarsa awal abad ke-20, perjumpaan para saudagar dan ulama muda asal Tanah Mandar dengan para tokoh pergerakan Islam di Makassar, Parepare, dan Yogyakarta telah menyalakan api pembaruan pemikiran Islam yang mendobrak kejumudan tradisi feodalistik dan tahayul, bidah, serta churafat (TBC) di tengah masyarakat lokal.

Analisis Konteks dan Urgensi Transformasi

Penerimaan ajaran Islam Berkemajuan yang diusung oleh KH Ahmad Dahlan di tanah Mandar berjalan melalui pendekatan dakwah yang sangat santun, bijaksana (bil hikmah), dan mengedepankan keteladanan amal nyata (dakwah bil hal). Para tokoh pelopor persyarikatan tidak memusuhi tradisi luhur masyarakat lokal Mandar seperti falsafah Sipamandar dan Siwaliparri, melainkan menyucikan nilai-nilai gotong royong tersebut dengan ruh tauhid yang membebaskan dan mencerahkan.

Tonggak penting pertama dari gerak dakwah Muhammadiyah di Sulawesi Barat adalah pendirian lembaga-lembaga pendidikan modern. Pada masa ketika akses pendidikan formal bermutu hanya dinikmati oleh kalangan bangsawan ningrat dan anak-anak pegawai kolonial Hindia Belanda, para perintis Muhammadiyah mendirikan madrasah-madrasah ibtidaiyah dan sekolah dasar rakyat di pelosok desa di Polewali, Tinambung, Majene, hingga Mamuju.

"Merekam sejarah masuknya persyarikatan Muhammadiyah di Tanah Mandar, pendirian Amal Usaha (AUM) pendidikan dan kesehatan, serta peran transformatif dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat."

Di sekolah-sekolah persyarikatan inilah, anak-anak petani miskin dan nelayan kecil diajarkan membaca huruf latin, ilmu hitung, geografi, dan bahasa asing modern, bersanding harmonis dengan pelajaran akidah, akhlak, dan hafalan Al-Quran. Dari rahim lembaga pendidikan Muhammadiyah inilah lahir generasi awal kaum terpelajar muslim Mandar yang kelak memimpin birokrasi pemerintahan daerah, mendirikan perguruan tinggi, dan menjadi tokoh pejuang kemerdekaan bangsa.

Dimensi Strategis dan Implementasi di Lapangan

Seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan peningkatan kualitas sumber daya manusia daerah, Muhammadiyah Sulawesi Barat melangkah lebih jauh dengan mendirikan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan tinggi. Berdirinya Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Mamuju yang kemudian bertransformasi megah menjadi Universitas Muhammadiyah Mamuju (UNIMAMU) menjadi tonggak bersejarah dalam penyediaan pendidikan tinggi berkualitas di ibu kota provinsi.

Kampus UNIMAMU kini telah berkembang pesat dengan memiliki berbagai fakultas unggulan: Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Pertanian dan Perikanan, serta Fakultas Sains dan Teknologi. Ribuan alumni sarjana telah dilahirkan dan kini menduduki posisi strategis di instansi pemerintah, lembaga perbankan, perusahaan swasta nasional, hingga menjadi wirausahawan mandiri yang menggerakkan perekonomian daerah.

Ekspansi perguruan tinggi persyarikatan juga merambah ke wilayah utara dengan berdirinya Universitas Muhammadiyah Mamuju Utara (UNIMMAN) di Pasangkayu. Kehadiran UNIMMAN menjadi oase pendidikan tinggi bagi putra-putri di kawasan perkebunan dan perbatasan yang sebelumnya harus menempuh perjalanan ratusan kilometer ke Palu atau Makassar untuk melanjutkan studi strata satu.

Tantangan Struktural dan Sinergi Lintas Sektor

Dimensi dakwah pemberdayaan ekonomi umat (Jihad Ekonomi) menjadi fokus teranyar yang sedang diakselerasi oleh Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata PWM Sulawesi Barat. Melalui pendirian jaringan ritel modern 'Surya Mart' dan sentra logistik sembako di berbagai pimpinan cabang, persyarikatan berikhtiar membangun kemandirian ekonomi jamaah agar tidak bergantung pada konglomerasi kapitalistik yang mematikan warung-warung kelontong tradisional masyarakat.

Selain sektor pendidikan dan ekonomi, pilar pelayanan kesehatan dan penanggulangan bencana menjadi bukti tak terbantahkan dari kiprah kemanusiaan persyarikatan. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) dan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Sulawesi Barat secara konsisten mengembangkan klinik rawat inap, balai pengobatan ibu dan anak, serta rintisan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Mamuju.

Gerakan Aisyiyah di Sulawesi Barat juga menorehkan tinta emas dalam pengentasan stunting, perlindungan hak-hak perempuan buruh tani, serta penguatan posyandu remaja berbasis masjid. Program 'Desa Qaryah Thayyibah' yang diinisiasi Aisyiyah di pedalaman Mamuju dan Polewali Mandar telah menjadi percontohan nasional dalam membangun ketahanan pangan keluarga, sanitasi lingkungan sehat, dan pemberdayaan ekonomi perempuan pengrajin tenun sutra tradisional Mandar Saqbe.

Prospek Masa Depan dan Rekomendasi Berkelanjutan

Kiprah nyata relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) saat bencana gempa bumi magnitudo 6,2 mengguncang Mamuju dan Majene pada Januari 2021 mendapatkan apresiasi luas dari masyarakat dan pemerintah. Bekerja dengan standar internasional One Muhammadiyah One Response (OMOR), posko medis dan dapur umum persyarikatan menjadi yang tercepat beroperasi di lokasi bencana, melayani puluhan ribu korban tanpa membeda-bedakan latar belakang agama maupun suku.

Kekuatan dakwah persyarikatan di Sulawesi Barat juga ditopang oleh soliditas Organisasi Otonom (Ortom) yang menjadi kawah candradimuka kaderisasi kepemimpinan: Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Tapak Suci Putera Muhammadiyah, dan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan. Regenerasi kepemimpinan yang berjalan sehat dan tertib memastikan panji-panji Islam Berkemajuan terus berkibar melintasi pergantian generasi.

Menatap abad kedua usianya di tanah Sulawesi Barat, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah terus mematangkan pembangunan Gedung Pusat Dakwah terpadu yang representatif di jantung Kota Mamuju. Gedung ini diproyeksikan menjadi episentrum peradaban keislaman, pusat kajian kebangsaan, inkubator ekonomi syariah, dan ruang konsolidasi umat dalam menyongsong peran strategis Sulawesi Barat sebagai penyangga utama Ibu Kota Nusantara.

Dengan berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah serta spirit pembaruan yang tak kunjung padam, Muhammadiyah siap terus berkhidmat mencerahkan semesta dan memajukan peradaban bangsa.

Kekuatan dakwah pencerahan persyarikatan di Sulawesi Barat juga terpatri kuat dalam penguatan peran masjid sebagai pusat peradaban komunitas (Masjid Berkemajuan). Masjid-masjid Muhammadiyah di Mamuju, Polewali, Majene, dan Mamuju Tengah tidak hanya difungsikan sebagai tempat shalat lima waktu, melainkan dilengkapi dengan perpustakaan jamaah modern, balai pengobatan gratis, posko bantuan sembako dhuafa, serta arena pelatihan keterampilan komputer bagi para remaja masjid.

Pemberdayaan kaum lansia dan kelompok penyandang disabilitas juga menjadi fokus perhatian majelis pelayanan sosial persyarikatan. Melalui program pendampingan komunitas berbasis kearifan lokal 'Sipakaraya' (saling menghormati dan memuliakan), Muhammadiyah memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat mendapatkan perlindungan sosial, akses ibadah yang ramah difabel, dan kasih sayang persaudaraan yang tulus tanpa diskriminasi.

Pemberdayaan sektor pertanian berbasis wakaf produktif juga mulai dirintis melalui pengelolaan lahan perkebunan kelapa sawit dan kakao wakaf seluas ratusan hektar di Mamuju Tengah dan Pasangkayu. Hasil panen dari perkebunan wakaf ini disalurkan sepenuhnya untuk membiayai operasional panti asuhan, beasiswa santri penghafal Quran di pondok pesantren persyarikatan, serta subsidi biaya pengobatan warga kurang mampu di klinik Muhammadiyah.

Sinergi antara ulama tarjih dan praktisi sains modern dalam tubuh persyarikatan melahirkan fatwa-fatwa keagamaan yang sangat kontekstual dan menjawab kebutuhan riil masyarakat Mandar. Mulai dari panduan hisab hakiki wujudul hilal penentuan awal bulan hijriah yang presisi, Fikih Kebencanaan, hingga Fikih Tata Kelola Air Bersih dan Lingkungan Hidup, Muhammadiyah senantiasa hadir membawa pencerahan akal dan ketenangan batin.

Dengan jejaring amal usaha yang kian mengakar dari kota hingga pelosok pegunungan dan pesisir pantai, Muhammadiyah di Sulawesi Barat terus membuktikan dirinya sebagai pilar utama kemajuan peradaban. Persyarikatan bukan sekadar organisasi massa keagamaan, melainkan gerakan kebudayaan dan keilmuan yang tiada henti menyinari akal budi dan menyejahterakan kehidupan seluruh umat manusia.

Kategori: Muhammadiyah
Bagikan:
P
Pimpinan Redaksi MaroonPost Pimpinan Redaksi

Pewarta dan penyunting warta jurnalisme MaroonPost Media Online Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Barat.

Tanggapan & Diskusi

0
Moderasi Aktif

Belum ada tanggapan pada warta ini. Jadilah pembaca pertama yang menyampaikan gagasan konstruktif!

Tulis Tanggapan

Tunduk pada Pedoman Media Siber dan etika kesantunan.